Kamis , 11 Agustus 2022

Do’a Aparatur Zakat

Oleh : Sudaryanto

ZAKAT menurut bahasa berasal dari kata zakka, tuzakki, yatazakka, yuzakki, zakaat, zakiy, zakkaa yang berarti tumbuh, suci, dan berkah. ( fiqh sunnah, Sayyid Qutub, hal.56). Zakat menurut istilah syari’at adalah hak yang wajib dikeluarkan pada harta tertentu untuk golongan tertentu diwaktu tertentu. (Syarah Umdatul Ahkam, Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di, hal.372).

Untuk mengelola zakat diperlukan sumber daya manusia yang handal dan profesional sebagaimana lazimnya aparatur negara. Mereka ini dikenal dengan amil zakat, bisa juga disebut aparatur zakat dalam tatanan administrasi publik. Sebab yang mereka lakukan berkaitan dengan kepentingan publik di berbagai ruang lingkup; desa hinga perkotaan, dalam negeri hingga luar negeri.

Di dalam Al Qur’an terdapat ayat yang menjelaskan tentang zakat seperti dalam Surat At Taubah ayat 103, yang berbunyi “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Orang yang berhak mengambil zakat adalah aparatur zakat dalam lingkup organisasi modern. Walaupun di lapangan ditemui masing-masing individu dapat menyerakan dan menyalurkan sesuai dengan keinginannya asalkan memenukriteria penerima. Salah satu aspek yang tidak boleh ditinggalkan oleh aparatur zakat adalah mendo’akan orang yang sudah berzakat (muzaki). Di dalam Al Quran Surat At Taubah ayat 103 tersebut, doanya sangat jelas yakni; semoga bersih, dan mensucikan serta semoga tentram. Dalam referensi lainnya dapat pula do’a tersebut yakni, semoga mendapatkan balasan dari Allah SWT, diberkahi dan bersih. Idealnya lagi, doa dari aparatur zakat tersebut dilapazkan sehingga memberikan kenyaman bagi muzaki meskipun di dalam hati bisa juga.

Saat ini banyak pihak yang terlibat dalam pengelolaan zakat, ada dari unsur pemerintah maupun swasta. Dari sisi pemerintah bernaung dalam wadah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), kemudian dari sisi swasta hadirnya Lembaga Amil Zakat Nasional yang bergerak di luar pemerintah. Pada dasarnya dua lembaga ini, sumber daya manusianya sama – sama adalah aparatur zakat. Sebagai aparatur zakat perlu juga diingatkan untuk senantiasa mendo’akan orang yang telah membayar zakat.

Dengan demikian harapannya, dari doa tersebut, peruntukkannya juga sesuai ketentuan Allah SWT yakni 8 asnaf (mustahiq). Penerima juga akan merasa lebih bertanggung jawab karena memperolehnya dari sesuatu yang diberkahi dan bersih, sehingga bermanfaat dan berdaya guna.***

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana S3 Administrasi Publik Universitas Riau

Baca Juga

Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UNRI, ini Pidato Pengukuhan Doktor Maria Erna

Riaupintar.id — Kemajuan teknologi menghasilkan gelombang besar perubahan di semua aspek kehidupan. Perubahan yang terjadi …