Selasa , 24 November 2020

Melihat Lebih Dekat Istana Hinggap Kota Pekanbaru

Riaupintar.id — Istana Hinggap atau disebut juga RUMAH INAP SULTAN SYARIF QASIM RAJA SIAK KE XII terletak di Jl. Senapelan Gg Pinggir (dibelakang SMK Muhammadiyah I / tidak jauh dari Masjid Raya Pekanbaru), rumah ini berdiri pada tahun 1929 dengan ciri khas model bangunan Eropa Turki dan di bangun oleh arsitek Belanda.

Kondisi rumah tersebut sampai saat ini masih berdiri kokoh karena terbuat dari beton. Rumah ini masih dalam bentuk asli, mulai dari tiang , pintu, jendela serta teralis yang ada di jendela hanya di cat saja dan tidak ada dilakukan perubahan.

Rumah ini sekarang menjadi rumah pribadi dari bapak H.Syahril Rais, SH yang merupakan suami dari Hj. Nurlis Yahya. Hj. Nurlis Yahya adalah cucu dari H. Zakaria pemilik rumah awal.

Arsitektur Rumah ini bernuansa klasik dengan model bangunan penggabungan dari Eropa dan Turki. Oleh karena itu sampai saat ini rumah tersebut masih berdiri dengan bentuk bangunan yang asli dengan arsitektur yang unik. Rumah ini juga memiliki halaman yang luas, saat ini di salah satu sisi samping rumah tersebut dijadikan sebagai lahan parkir untuk SMK Muhammadiyah I.

Didalam rumah tersebut banyak peninggalan-peninggalan bersejarah seperti cangkir, piring, lemari, teko, kursi, foto, dan lain sebagainya. Namun yang menarik dari rumah ini dan membuatnya unik ada Tiang yang selalu lembab dalam rumah tersebut. Beberapa orang yang sudah mengunjungi rumah tersebut memberikan julukan “Tiang Menangis” hal ini disampaikan langsung oleh bapak H.Syahril Rais, SH selaku pemilik rumah tersebut.

Namun sebenarnya tidak ada julukan khusus untuk tiang tersebut, hanya saja jika tiang tersebut lembab dan ada sedikit berminyak itu dibenarkan oleh bapak H.Syahril Rais, SH beliau menyebutkan cat yang digunakan untuk tiang tersebut cat khusus.

“Rumah ini dahulunya juga pernah menjadi rumah sakit dan penjara di zaman belanda. Rumah ini juga menjadi salah satu saksi bisu dari banyak peristiwa yang terjadi di riau khususnya kota Pekanbaru,” jelas Dia.

Sejarah Istana Hinggap Istana hinggap yang terletak di Jl. Senapelan Gg. Pinggir biasa juga disebut sebagai rumah inap dari sultan syarif qasim raja siak ke-XII. Sementara rumah singgah tuan kadhi di Jl. Perdagangan (dipinggir sungai siak) kurang tepat penamaannya, nama yang benarnya adalah “Pelataran Singgah Kapal Kerjaan Siak”.

Tuan kadhi disebut juga dengan Tuan Hakim. Tuan Kadhi adalah Pangkat Mukhti Besar kerajaan Siak (hakim agung/tangan kanan). Tuan Kadhi merupakan suatu gelar.

H. Nurdin Putih adalah mertua dari Tuan Kadhi, H. Zakaria bin H. Abdul Muthalib adalah Tuan Kadhi Zakaria. Beliau mempunyai anak tunggal yang bernama H. Yahya. Istrinya berasal dari Pangkalan ( Sumatera Barat ). Tuan kadhi berasal dari asahan sumatera utara. Beliau wafat pada tahun 1937.

H. Yahya merupakan anak dari tuan kadhi Zakaria. Beliau mempunyai 9 orang anak.

Pada Masa Pra Kemerdekaan, Rumah ini pernah djadikan tempat berkumpulnya dan tempat mengadakan rapat-rapat penting para pejuang yang ingin negeri ini lepas dari tangan perjajahan Belanda, para pejuang ini dipimpin oleh M Amin (Ketua Senkat Dagang Islam) daerah Kampar (sewaktu itu adalah kota Pekanbaru termasuk juga daerah Kampar). Pasukan bawah tanah itu disebut sebagai Pasukan Jihad Fisabillah (Tahun 1934 s/d 1939).

Tahun 1939 akhir rumah ini dilarang oleh Belanda untuk tempat berkumpul orang-orang Serikat Dagang Islam dan beberapa orang pengurusnya ditangkap dan ditahan dirumah ini. Keluarga Tuan Kadhi juga disuruh pindah oleh Belanda dan kemudian Tuan Kadhi pun pindah ke rumah mertua Tuan Kadhi ditepi Sungai Siak (sekarang rumah mertua Tuan Kadhi tersebut sudah diganti rugi oleh Pemko Pekanbaru dan sekarang rumah tersebut diberi nama oleh Pemko Pekanbaru dengan nama Rumah Singgah Tuan Kadhi).

Setelah rumah tersebut kosong, rumah tersebut dikuasat Belanda dan djadikan markas Belanda, sejak saat itu Sultan Syanf Oasim tidak pernah lagi menginap di Pekanbaru. Kalau Sultan ke daerah Tapung, Sultan hanya singgah dirumah mertua Tuan Kadhi (Tuan Kadhi meninggal dunia tahun 1937 di Siak dan dikebumikan di Komplek Kuburan Istana Siak. Pada Tahun 1939selain dijadikan markas Belanda, rumah ini juga pernah dijadikan rumah sakit Belanda sampai dengan Tahun 1942.

Tahun 1942 Jepang masuk di rumah ini dan sekitarnya terjadi kontak senjata antara tantara belanda dengan jepang. Akhirnya rumah ini juga dijadikan rumah tahanan oleh jepang sampai dengan awal tahun 1945.

Ditahun 1945 indonesia merdeka dan dirumah ini sempat dikibarkan bendera merah putih di halaman rumah ini yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 13.00 WIB dan pagi harinya pada pukul 06.30 WIB pada tanggal 18 Agustus 1945 bendera merah putih tersebut dipindahkan disekitar taman puskemas (Jl. Ahmad Yani sekarang) semua itu dilakukan oleh tantara PETA yang dilatih oleh jepang di bawah pimpinan ABDULLAH salah seorang putra pangkalan kelahiran pekanbaru dengan panggilan DULLAH ANCO.

Pada akhir tahun 1945 rumah ini Kembali di tempati oleh pemiliknya yang bernama YAHYA ZAKARIA (anak tunggal dari KADHI ZAKARIA) sampai dengan tahun 1949.

Pada agresi belanda ke-II yaitu tahun 1949,rumah ini Kembali ditinggalkan oleh keluaraga yahya Zakaria dan mengungsi ke daerah tapung (pantai cermin) dan pada saat itu rumah ini kosong dan dijadikan pos ex tantara peta.

Tahun 1951 rumah ini kembali kepada pemiliknya dalam keadaan porak poranda. Barang berharga, alat rumah tangga dan yang lainnya bekas peninggalan Tuan Kadhi Zakaria habis dijarah.

Pemilik rumah (H. Yahya Zakaria yang merupakan anak dari tuan kadhi Zakaria) tidak mempunyai pekerjaan. Penghasilan untuk kehidupannya adalah dari hasil sewa ruko di pasar bawah (Pelabuhan Pelindo sekarang) sebanyak 17 ruko dan di pasar tengah (Jl. Karet sekarang) sebanyak 12 ruko. Tanah kosong dan lahan ruko kepunyaannya tak kurang dari 2 ha disekitar jalan karet tersebut.

Dalam karir politiknya H. Yahya Zakaria sempat menjadi salah seorang pengurus partai Masyumi dan menjadi anggota DPD (sekarang DPRD) pada zaman gubernur riau yang pertama yaitu Muhammad Amin yang pada saat itu berkedudukan di Tanjung Pinang.

Pada tahun 1955-1956 rumah ini sering dijadikan tempat rapat oleh anggota DPD (sekarang DPRD) Kota Pekanbaru yaitu diantaranya ;

H. YAHYA ZAKARIA (pemilik rumah), H. ABDULLAH HASAN (ayah dari H.Herman Abdullah mantan Walikota Pekanbaru), H. MUHAMMAD YATIM D, H. ABDUL HAMID YAHYA, H. WAN GHALIB (Pemuka Masyarakat Riau) MUHAMMAD AMIN (Gubernur Riau pada saat itu).

Acara rapat pada saat itu adalah seputar usaha untuk memindahkan ibu kota provinsi dari Tanjung Pinang ke Pekanbaru.

Sejak tahun 1951 rumah ini dihuni oleh keluarga besar H. YAHYA ZAKARIA sampai tahun 2012 berpindah tangan kepemilikannya kepada menantunya yaitu H. SYAHRIL RAIS, SH sampai dengan saat ini. **

Penulis : Dini Parenti (Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Riau)

Baca Juga

Mantap, Unilak Raih Anugerah KI Award untuk Ketiga Kalinya

Riaupintar.id — Untuk ketiga kalinya, Universitas Lancang Kuning (Unilak) kembali meraih anugerah Komisi Informasi (KI) …