Jumat , 25 September 2020

Mengulas Lagu untuk Alana dalam Prasasti Usang

PRASASTI USANG bukti pengalaman mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kelas 2018 B. Mahasiswa itu sendiri yang menjadi penulisnya. Rata-rata cerpen yang dibuat dalam prasasti usang berasal dari pengalaman penulis. Cerpen itu dibuat sekitar 1 tahun yang lalu ketika penulisnya duduk di semester 3. Ketika itu datang sebuah kisah dari gadis bernama Alana yang keluarganya tidak harmonis. Orang tuanya bercerai, akibat ayahnya memilih wanita lain dibandingkan ibunya. Perasaannya begitu sakit sampai membentuk sebuah tembok yang mana tembok itu dapat dihancurkan dengan kehadiran Adrian di dalam hidupnya. Agaknya cerpen Lagu untuk Alana ini memang ditulis untuk mengekspresikan perasaan si penulisnya sendiri yang bernama Syarifah Rizani Nurfasha, dengan mengarah kepada sesuatu yang benci dan cinta.

Lagu untuk Alana itu terbit di dalam antalogi cerpen yang berjudul Prasasti Usang pada bulan Desember 2019. Penulisnya lahir di Pekanbaru, Riau pada tanggal 1 Desember 1999. Ia gadis yang kerap dipanggil Riza. Gadis yang ceria, hobi menonton dan banyak mengoleksi drama dan film korea.

Lagu untuk Alana berada pada halaman 318-326 di dalam buku prasasti usang. Saya menemukan makna dari sebuah kebencian, namun kebencian itu yang menjadi tembok di dalam perasaan tokoh tersebut. Tembok itu bisa dihancurkan dengan sebuah perasaan cinta. Penulis cerpen ini memang mengutamakan perasaan dalam tulisannya. Saya melihat penulis menuangkan pengalamannya dalam sebuah cerita pendek yang berjudul Lagu untuk Alana ini dengan pilihan diksi yang menarik dan tertata rapi dibandingkan beberapa cerpen lainnya dalam antalogi cerpen Prasasti Usang tersebut. Namun konflik dalam Lagu untuk Alana ini kurang memuncak yang menyebabkan ceritanya sedikit membosankan.

Alurnya sederhana: Alana gadis ceria yang perwatakannya mirip seperti wanita korea. Lana panggilannya, orang tuanya sudah bercerai sejak ia masih kecil. Ayahnya selingkuh dengan wanita lain yang membuat mereka bercerai dan meninggalkan Alana kecil. Kehidupan Lana menjadi pas-pasan atau dalam tingkatan yang sederhana. Lana termasuk gadis yang pintar dan selalu mendapat prestasi disekolahnya. Meskipun begitu, Alana termasuk orang yang tidak terbuka kepada orang lain. Terlebih lagi ketika Alana sedang sedih dan ada masalah, ia tidak pernah menceritakannya kepada orang lain. Bahkan, kepada ibunya sendiri ia tidak mau menceritakannya, seperti ada tembok di hati Alana yang tak seorang pun dapat menghancurkannya. Tembok itu selalu berdiri kokoh di dalam perasaan Alana tersebut.

Sampai suatu hari, pertahanan tembok Alana runtuh. Ia tak mampu lagi menahan perasaannya. Ia tumpahkan segala keluh kesahnya dan segala perasaannya kepada satu orang. Satu orang yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya, mengusik ketenangan jiwa dan batin Alana. Seseorang yang mampu menghancurkan kerasnya tembok hati Alana. Seseorang yang mampu mengubah seluruh hidupnya. Seseorang yang mempu membuat hari-hari Lana lebih berwarna dari sebelumnya. Seseorang itu bernama Adrian, kakak kelas Alana yang pandai bernyanyi dan bermain gitar. Adrianlah yang memiliki kesempatan untuk mendengarkan keluh kesah dari Alana. Adrian juga memiliki perasaan yang kuat terhadap Alana. Begitu juga perasaan alana terhadap Adrian yang juga bergitu kuat.

Hari-hari berikutnya seorang Lana tidak lagi menyimpan kesedihannya sendiri. Ia sudah mulai terbuka kepada Adrian . Alana menceritakan semua masalahnya kepada Adrian. Kini Adrian seseorang yang penting di hidupnya dan orang yang paling Alana cintai. Perasaan yang dituangkan penulis tidak begitu rumit dan terlalu sederhana. Akhir cerita hampir sama pada cerita-cerita yang lain, yaitu kebahagiaan atau perasaan cinta.

Ruang kelas, atap sekolah, dan kafe: wadah mengutarakan ekspresi isi hati Alana kepada Adrian. Saat itu langkah Lana terhenti di ruang kelas 12 IPA 1. Dari luar kelas, Lana terdengar suara gitar dan nyanyian yang membuatnya begitu penasaran. Lana terpaku mendengarkannya. Ketika Lana mau meninggalkan posisinya itu, tangan Lana di pegang oleh Adrian. Adrian berusaha menggoda Lana karena ia mengintip Adrian bermain gitar. Sejak pertemuan itu Lana dan Adrian mulai sering bertemu dan bercakap-cakap. Adrian juga mulai mengantar pulang Alana dan Alana juga mulai menemani Adrian ngeband.

Ekspresi itu sangat jelas dituangkan dalam cerita terutama di atap sekolah. Atap sekolah tempat favorit Alana untuk menyendiri jika dirinya merasa sedih. Biasanya ia menuangkan kesedihannya itu sendiri, namun kali ini berbeda semenjak kehadiran Adrian. Adrian berusaha mengikuti Alana sampai ke atap sekolah. Adrian melihat Alana sedang sedih dan lelaki yang biasa di panggil Rian itu berusaha menghibur Alana dengan bermain gitar dan bernyanyi. Hari itu membuat Lana merasa lega karena kehadiran Rian. Alana merasa sedih setelah ia mendapatkan sms dari ayahnya. Ayahnya kangen kepadanya dan ingin bertemu dengannya, namun karena kejadian 10 tahun yang lalu Lana tidak pernah menyukai ayahnya sedikit pun.

Wadah itu semakin penuh dengan aliran perasaan benci yang dicampukan dengan cinta. Di sisi lain, hati Lana merasakan sebuah cinta dan di sisi lain merasakan benci. Benci itu datang ketika seorang ayah muncul dihadapannya dan cinta itu datang ketika Adrian menghampirinya. Benci itu hilang dengan adanya rasa cinta yang kuat diantara Alana dan Adrian yang diceritakan di dalam buku prasasti usang tersebut. Suatu ketika hati Lana bergoncang ketika Lana menemani Rian ngeband di suatu kafe. Saat itu tiba-tiba ayahnya menghampiri, sontak Alana terkejut dan membuang muka. Alana sangat marah dan sangat membenci ayahnya itu. Alana langsung pergi meninggalkan kafe dan Adrian yang melihatnya langsung pergi menyusulnya. Ketika Adrian melihat Alana yang tengah jongkok dan menangis, Adrian langsung memeluknya dan Alana menangis dipelukannya dengan menumpahkan segala emosinya itu.

Begitulah kisah kehidupan Alana di dalam buku prasasti usang tersebut. Alana tidak pernah trauma untuk membuka perasaannya. Alana cuman memberi tembok pada perasaannya itu. Penulis berusaha membatasi perasaan tokohnya itu dengan harapan seseorang lebih bisa menghargai perasaan orang lain. Penulis cerpen Lagu untuk Alana ini memang pandai memainkan perasaannya. Di sini penulis berusaha untuk mengesampingkan perasaan bencinya dan mengedepankan perasaan cintanya itu. Serta penulis juga berusaha untuk menutupi perasaannya.

Penulis tidak salah mengekspresikan perasaannya kepada tokoh-tokohnya. Dilihat dari Adrian dan Alana, perasaan penulis itu memang muncul dari suatu kejadian bukan suatu sifat benci terhadap orang lain. Penulis berusaha membuat cerita yang didalamnya berisi makna bukan karena rasa benci seorang anak gadis kepada ayahnya yang membuat takdir ditemukan, serta perasaan Adrian dan Alanalah yang memang sudah menjadi takdir. Takdir sudah pasti dipertemukan, tinggal seberapa usaha diri kita untuk menjemputnya. Takdir itu ada yang dapat dirubah, asalkan diri kita sendiri yang mengubahnya.***

Pekanbaru, 19 Mei 2020
Retno Andini Pratiwi
Nama pena Arkara