Jumat , 27 November 2020

Mengulik Sejarah Datuk Imam Rail, Seorang Pahlawan Kemerdekaan serta Penyebar Agama Islam di Aur Cina

Riaupintar.id — Pahlawan sendiri memiliki makna orang yang menonojol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani. Di bulan Agustus ini, bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus.

Seperti yang kita ketahui, kemerdekaan Indonesia didapatkan melalui perjuangan para tokoh bangsa yang mengusir parapenjajah dari Indonesia. Kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para pahlawan kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari tanah air tercinta. Atas jasa-jasanya, negara mengangkat para pejuang tersebut sebagai pahlawan nasional.

Nah, untuk mengenang jasa-jasa mereka,saya akan mengingatkan dengan sosok pahlawan perintis kemerdekaan yang telah amat sangat berjasa terhadap Desa Aur Cina, Batang Cenaku, Indragiri Hulu.

Desa ini ternyata mempunyai seorang pahlawan kemerdekaan serta penyebar agama Islam pertama di Desa Aur Cina, yaitu Datuk Imam Rail. Makam Datuk Imam Rail ini baru saja diperkenalkan kepada masyarakat Aur Cin aoleh Mahasiswa Kukerta STAI pada tahun 2018 lewats panduk yang mereka buat di pinggirjalans ekitar kurang lebih 150 meter dari Makam Datuk Imam Rail.

Sejarawan Desa Aur Cina H. Sarkawi (68) menceritakan, Datuk Imam Rail lahir di Aur Cina, Beliau asli penduduk Aur Cina namun beliau menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren di Jambi. Beliau menuntut ilmu agama bersama seorang temannya yang bernama Batin Dagang. Setelah Datuk Imam Rail merasa cukup menuntut ilmu di pondok pesantren tersebut beliau kembali keasalnya yaitu ke Aur Cina.

Datuk Imam Rail ini mendapat gelar dari pondok pesantrenya itu Singa Berantai. Setelah pulang ke kampung halamannya, dia menikah dengan gadis asli Aur Cina dan di karuniai anak sematawa wayang berjenis kelamin perempuan dan diberi nama Sa’adi. Kepulangan Datuk Imam Rail ini membawa ajaran agama Islam kedesa Aur cina beliaulah orang pertama yang menyebarkan agama islam di Aur Cina, dengan gigih beliau mengajarakan agama Islam kemasyarakat Aur Cina beliau mengajarkan tata cara sholat dan mengaji Al-Qura’an.

Beliau juga membangun Musholla namun bangunan musholla tersebut sekarang telah di runtuhkan oleh Belanda. Tanpa pamrih beliau terus mengajarkan agama islam di Aur Cina. Kemudian, disusul oleh temannya yang bernama Batin Dagang juga ikut menyebarkan agama islam namun Batin Dagang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat Aur Cina, Sehingga ia merasa cemburu kepada datuk Imam Rail tetapi ia tidak terlalu menampakkan hal tersebut didepan orang-orang ataupun datuk Imam Rail.

Dengan kegigihannya masyarakat Aur Cina yang mayoritas suku Melayu mereka semua mengganut ajaran agama Islam. Karena datuk Imam Rail ini seorang penyebar agama Islam Belanda tidakm enyukai beliau, beliau terus di cari-cari oleh Belanda untuk di bunuh. Belanda terus mencari datuk Imam Rail bertahun-tahun namun tidak bertemu, Akhirnya Belanda bertemu dengan Batin Dagang seorang teman seperguruan datuk Imam Rail, karena Batin Dagang memiliki rasa cemburu atau iri akhirnya ia menerima permintaan Belanda untuk menemukan datuk Imam Rail dan mendapatkan imabalan dari Belanda.

Pada suatu hari, datuk Imam Rail menghadiri sebuah acara perkawinan di desa sebelah yaitu desa Kuala Kilan, beliau sendirian tanpa ditemani istri dan anaknnya dan beliau tidak pulang kerumahnya namun bermalam di rumah adik iparnya yang bernama Mainin yang rumahnya juga di desa Kuala Kilan. Dan keberadaan datuk Imam Rail diketahui oleh Batin Dagang kemudian ia memberitahukan keberadaan datuk Imam Rail kepada Belanda.

Akhirnya Belanda dan Batin Dagang datang kerumah Mainin pada malam hari saat datuk Imam Rail dan Mainin tertidur. Belanda langsung masuk kerumah Mainin yang waktu itu rumah Mainin masih rumah panggung, Mainin langsung terbangun sementara datuk Imam Rail masih tertidur,kemudin Mainin membangunkan datuk Imam Rail dan berkata “bang bangun, pasukan belanda mencari abang”, datuk Imam Rail pun langsung terbangun dan mengambil keris miliknya dan langsung turun kebawah rumah.

Datuk Imam Rail dan Mainin bertempur melawan pasukan Belanda dan Batin Dagang, karena kesaktian atau ilmub datuk Imam Rail ini beliau tidak tumbang saat di tembak berulang-ulang oleh Belanda. Belanda pun merasa bingung kenapa beliau tidak tumbang di tembak, akhirnya karena Batin Dagang mengetahui kelemahan ilmu dari datuk Imam Rail, Batin Dagang menangkap datuk Imam Rail dengan kuat dan lama sambil berkata “tidak usah kau melawan lagi Rail kau akan segera meninggal” datuk pun lemah dan tumbang tak berapa lama beliau pun meninggal dunia dengan mengucapkan lafal ALLAH HU AKBAR.

Datuk Imam Rail Wafat padatahun 1914 bersama adik iparnya Mainin dan dikuburkan di satu tempat liang lahat. **

Penulis : ANGGI AFRILIANTI ( mahasiswi s1 prodisejarah UNRI )

Baca Juga

Besok, Pascasarjana Unilak Gelar Yudisium XI, Terapkan Prokes Ketat

Riaupintar.id – Akan menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) yang ketat, besok, Selasa 24 Nopember 2020, Pascasrajana …