Kamis , 28 Mei 2020

Pakar Kehutanan Unilak Diundang Sebagai Pemakalah di Simposium Nasional Reforma Agraria implies Reforma Kehutanan

Riaupintar.id — Reforma Agraria ditempatkan sebagai satu bagian mutlak dari “cita-cita Revolusi Indonesia” untuk mewujudkan “Sosialisme Indonesia”. Namun dalam perjalanannya reforma agraria dianggap belum sejalan dengan cita-cita revolusi Indonesia yang didasarkan pada mandat konstitusi yaitu untuk mereduksi kesenjangan sosial.

Sebagai upaya untuk mendiskusikan arah kebijakan nasional terkait Reforma Agraria dan Reforma Kehutanan, The Asia Foundation, FORCI DEVELPOMENT, Fakultas Kehutanan IPB University (FORCIDEV) dan Forum Perguruan Tinggi Kehutanan se-Indonesia (FOReTIKA) mengadakan Simposium Nasional Reforma Agraria Implies Reforma Kehutanan pada tanggal 13-14 Januari 2020 di Swisbel-Residence Kalibata, Jakarta Selatan. Simposium ini diselenggarakan bersama dengan elemen masyarakat sipil dan berlangsung selama dua hari 13 dan 14 Januari 2020.

Dalam simposium ini mengundang 12 pembicara, beberapa pembicara yaitu Prof Dr Ir Hariadi Kartodiharjo, Sudarsono Soedomo PhD. Dr.Ir.Crinstine Wulandari, Dr.Ir.Eno Suwarno (dosen fakultas kehutanan Unilak) dan lain lain. Simposium yang berlangsung selama dua hari ini dibagi lima sesi, dengan menghadirkan pembicara di masing-masing sesi. Dosen fakultas kehutanan Unilak tampil di sesi lima.

Dihubungi Rabu 15 Januari 2020, Eno mengatakan bahwa dirinya menjadi pemateri di panel sesi lima, mengangkat tema Pembaruan Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Hutan, narasumber lainnya yaitu Dr. Teguh Kurniawan.S.Sos.MSc (Pasca UI). Sebagai moderator
Paramaitha Iswari. PhD.

“Di sesi ini saya memaparkan tentang rancangan pembaruan kebijakan pembangunan kehutanan yang merupakan gong bagi keseluruhan tema simposium”, sebut Eno.

Dalam pemaparannya Eno memberikan beberapa kesimpulan yaitu satu, perlu ada kebijakan reforma agraria, Distribusi kepemilikan lahan hutan bisa meniru Swedia. Yang kedua perlu ada perubahan paradigma dan budaya pengurusan hutan, dari orientasi warisan kolonial, kepada ruh keadilan sosial dan kelestarian. Dan ketiga reforma agraria dan kehutanan, berkaitan erat dengan perbaikan struktur politik dan ekonomi negara.

Hari pertama simposium diawali dengan pemaparan serta pembahasan makalah “Rezim Kawasan Hutan dan Politik Realokasi Penggunaannya” oleh Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS dan Sudarsono Soedomo, Ph.D. Selanjutnya proses diskusi dibagi ke dalam lima tema. (rls)

Baca Juga

Fikom UIR Bekali Siswa Tiga Sekolah di Kampar dengan Literasi Digital

Riaupintar.id — Dalam upaya membentuk siswa menjadi pengguna media sosial yang cerdas, kreatif dan kritis. …