Selasa , 24 Mei 2022

Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Pada K-13 Tingkat SD Dimasa Pandemi

Ilustrasi (Sumber gambar:id.pintereset.com)

PADA tahun ajaran 2013/2014 pemerintah menerapkan kurikulum 2013 atau K-13 yang diberlakukan secara bertahap pada jenjang pendidikan. Pada tahun pertama diterapkan pada siswa Sekolah Dasar untuk kelas I dan IV SD serta kelas satu pada jenjang SMP dan SMA. Kurikulum 2013 diterapkan dengan tujuan mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan hidup dan menjadi warga negara yang beriman, produktif, kreatif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Pada pelaksanaan kurikulum 2013 tingkat Sekolah Dasar terdapat perubahan pada pendekatan belajar mengajarnya menggunakan pembelajaran tematik yang mengaitkan beberapa mata pelajaran kedalam berbagai tema dalam setiap kali pertemuan sehingga memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik.

Pembelajaan Tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik, karena peserta didik lebih memahami pembelajaran melalui pengalaman langsung yang berkaitan dengan kehidupannya dan menghubungkan dengan konsep yang telah dikusai sebelumnya.Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).

Pada kondisi sekarang ini tentunya pembelajaran tidak dapat berjalan secara efektif. Secara tanggap pemerintah telah menetapkan bahwa pendidikan diterapkan secara daring untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Pembelajaran daring tentunya berpengaruh terhadap kurang maksimal pelaksanaan pembelajaran tematik di tingkat SD, Terdapat kendala yang dialami oleh guru dan dalam kegiatan belajar mengajar secara daring, seperti keadaan jaringan yang tidak selalu mendukung sehingga menyebabkan penyampaian materi tidak optimal selain itu guru juga sulit memantau karakter, atau perilaku peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga sulit mengintegrasikan dengan pembelajaran tematik karena pembelajaran tematik memprioritaskan aspek pengetahuan, sikap pembelajaran, keterampilan, serta pemikiran yang kreatif.

Sedangkan kendala peserta didik yaitu kurangnya pemahaman peserta didik ketika melakukan proses balajar daring, faktor jaringan dan paket internet yang tidak dapat dijangkau oleh semua peserta didik. Dalam pembelajaran daring waktu belajar tidak kondusif, kegiatan tanya jawab, dan berinteraksi sulit dilakukan, sehingga peserta didik jenuh dalam mengikuti pembelajaran daring.

Pembelajaran daring selama masa pandemi juga menuntut guru menguasai teknologi. Masih banyak guru di indonesia yang masih kurang menguasai teknologi dengan baik. Guru juga sulit untuk memantau peserta didik dalam pembelajaran, materi yang diajarkan juga terbatas karena tidak bisa dilaksanakan bersama dalam kelas. Pembelajaran seperti ini dirasa kurang efektif, karena pencapaian materi pembelajaran tidak tersampaikan dengam maksimal.

Dalam melaksanakan pembelajaran tematik di masa pandemi dengan model pembelajaran daring menggunakan aplikasi WhatsApp, Zoom, dan video pembelajaran, pada kegiatan pendahuluan dibuka dengan salam, menanyakan kabar, berdo’a, pada kegiatan inti diharuskan siswa aktif dalam pembelajaran, pada penyampaian materi dilakukan dengan menggunakan WhatsApp atau video pembelajaran, kegiatan penutup diakhiri salam penutup dan penyampaian pesan oleh guru, untuk kegiatan evaluasi pembelajaran dilakukan dengan memberikan tugas yang dikumpulkan dalam bentuk foto, video yang dikirimkan pada guru tersebut.

Siti Farah Khalidiyah, dalam artikel nya menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar daring para guru harus siap menghadapinya. Para guru harus tetap menjalankan tugasnya untuk terus memberi ilmu kepada peserta didiknya dalam situasi seperti apapun.

Pembelajaran daring tidak menjadi halangan bagi guru maupun peserta didik dalam menuntut ilmu demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Namun, karena pembelajaran daring yang dianggap tidak efektif, mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan Pertemuan Tatap Muka (PTM) terbatas melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran dimasa pandemi COVID-19. Panduan yang ini diluncurkan dapat menjadi acuan agar PTM terbatas dapat terselenggara dengan aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah, keluarga, dan masyarakat sekitar.

Kebijakan Pertemuan Tatap Muka (PTM) terbatas menuntut guru untuk lebih ekstra lagi dalam mengajar supaya tercapainya tujuan pembelajaran, karena jam pembelajaran yang terbatas sedangkan pembelajaran tematik membutuhkan waktu yang banyak untuk tercapainya pembelajaran kepada peserta didik.***

Penulis : Dini Arifah, Fasera Utari Vara, Nilam Musdalifah, Sri Nurhidayati

Para Penulis adalah Mahasiswa Universitas Islam Riau, Fakultas PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar), Pembelajaran Tematik, Semester 3.

Baca Juga

Tempat Asyik Belajar Statistik ada di “Pojok Statistik” UNRI

Riaupintar.id — Guna mendukung penyebarluasan ragam dan manfaat produk statistik di lingkungan Perguruan Tinggi, Kepala …