Selasa , 24 November 2020

Secara Virtual, Faperta Unilak Gelar Kuliah Umum dan Webinar Nasional

Riaupintar.id — Melalui kuliah umum dan webinar nasional seri I, Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning (Faperta Unilak) berikan wawasan serta motivasi kepada mahasiswa terkait aspek halal dan bermutu dalam produk agribisnis, Jumat 23 Oktober 2020, melalui Zoom Meeting.

Kuliah umum dan webinar seri I ini dibersamai oleh Dr. Eng., H. Indra Purnama yang merupakan dosen tetap di Faperta Unilak.

Sejumlah pemateri kompeten dibidangnya masing-masing dihadirkan dalam seminar ini, dari kalangan akademisi dan birokrat yang sangat luar biasa, yaitu Prof. Dr. Ir. H. Irwan Effendi, M.Sc, guru besar Universitas Riau yang juga sekaligus sebagai Ketua Yayasan Raja Ali Haji; Prof. Ir. Sukoso, M.Sc, PhD, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Pusat; Yudi Noviandi, M.Sc., Tech., Apt, Kepala Balai Besar POM di Pekanbaru, dan juga akademisi muda Indonesia yang saat ini menjadi Asisten Profesor di University Collage of Bahrain, Dr. M. Rizky Prima Sakti.

“Tuntutan masyarakat akan produk pangan yang halal dan aman saat ini semakin tinggi, sehingga sudah seharusnya kita yang bergerak di dunia pertanian harus berpikir lebih kritis serta berpandangan secara global dalam menangkap peluang ini, agar kedepannya produk-produk dari hasil pertanian kita dapat bersaing di level internasional,” ungkap Dr. Ir. Dedi Zargustin, M.Si, Dekan Faperta Unilak, di sela-sela sambutannya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Prof Irwan. “Sudah saatnya para dosen dan mahasiswa bersinergi dalam menciptakan inovasi, agar produk-produk agribisnis kita memiliki nilai jual lebih di kancah global,” kata Prof. Irwan.

Materi yang disampaikan oleh Prof Sukoso dan Bapak Yudi, masing-masing berkaitan dengan regulasi serta pengawasan untuk sertifikat halal di BPJPH dan sertifikat keamanan pangan di BPOM.

“Dari pemaparan Prof. Sukoso dan Pak Yudi, saya baru tahu bahwa pengurusan sertifikasi halal dan sertifikasi keamanan pangan itu sangat mudah, bahkan gratis untuk UMKM yang baru saja merintis usaha,” ungkap Raudha, salah satu peserta kuliah umum, senang.

Dr. Rizky menjelaskan secara gamblang mengenai bagaimana peranan serta peluang pangan halal dalam ekonomi syariah dunia yang sangat menjanjikan, karena berdasarkan data yang ada, hampir semua produk pangan di pasar ekonomi syariah global berasal dari negara-negara non muslim.

Sayang sekali jika peluang ini dibiarkan begitu saja, padahal Indonesia, yang penduduknya lebih dari 80% muslim dan dengan segala kekayaan hasil alamnya, memiliki potensi untuk mendunia. Dalam pada itu, keempat pemateri sama-sama mengajak semua peserta kuliah umum dan webinar untuk bisa menjadi ahli di bidang pertanian dan mau meningkatkan citra produk-produk agribisnis melalui tren halal dan bermutu.

Acara kuliah umum dan webinar yang dihadiri hampir 400 peserta ini semakin ramai ketika berlangsungnya sesi tanya jawab. Banyak peserta penasaran bagaimana alur proses pendaftaran sertifikat halal dan sertifikat keamanan pangan, serta terkait tentang jaminan produk halal di negara lain, seperti di Bahrain.

Di akhir sesi diskusi, Bapak Yudi dari Balai Besar POM di Pekanbaru mengajak mahasiswa dan dosen Unilak untuk sama-sama membangun inkubator bisnis di bidang pangan halal dan bermutu. Tentunya ini menjadi angin segar bagi terwujudnya koloborasi yang baik antara akademisi dan birokrasi dalam mendorong mahasiswa untuk menjadi wirausaha muda.

“Sudah siap berwirausaha?” tanya Ibu Asgami Putri, SP, MMA, Wakil Dekan I Faperta Unilak ketika akan menutup jalannya acara kuliah umum dan webinar seri I. Tentunya hal itu menjadi motivasi tersendiri bagi para mahasiswa. “Jangan lupa terus ikuti kuliah umum dan webinar seri selanjutnya, karena akan ada tema-tema yang jauh lebih menarik,” tutup Ibu Asgami dan diiyakan oleh sebagian besar mahasiswa Unilak. (rls)

Baca Juga

Mantap, Dosen Unilak Bantu Kelompok Tani Untuk Tetap Produktif di Masa Pandemi

Riaupintar.id — Untuk membantu warga mendapatkan penghasilan tambahan dan tetap produktif di masa pandemi Covid-19 …