Jumat , 27 November 2020

Sejarah Dibalik Rumah Tenun Kampung Bandar

Riaupintar.id — Rumah tua yang terletak di kawasan kampung bandar. Kini menjadi kawasan pariwisata yang kadang disebut Rumah Tenun Kampung Bandar. Rumah ini tepatnya terletak di kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Jl. Perdagangan. Secara keseluruhan rumah tenun tersebut masih dalam bentuk asli dari awal dibangunya rumah tersebut.Rumah ini dijadikan tempat berkumpul salah satu komunitas bertenun yang ada di pekanbaru.

Dalam hal pembuatan satu kerajinan tenun komunitas ini bisa memakan waktu minimal seminggu dan maksimalnya bisa memakan waktu sebulan untuk sehelai kain tergantung motif yang ingin dibuat. Selain kain komunitas ini juga menenun motif pada baju dan untuk pengerjaannya tidak membutuhkan waktu yang lama. Misalnya seperti baju yang full tenun hanya membutuhkan waktu sekitar 8 hari. Di rumah tenun tersebut pengunjung bisa melihat proses pembuatan kain tenun.

Ditanya mengenai motif yang paling terkenal dan yang membedakan tenunan di rumah tenun Kampung Bandar dengan rumah tenun lainnya. Ketua Komunitas rumah tenun Kampung Bandar menjelaskan “ Sebenarnya semua motif terkenal semua, namun tenunan disini kami bermain di warna agar menjadi lebih menarik” Ujar ketua komunitas.

Dari segi sejarahnya rumah ini merupakan milik pribadi yakni milik H. Yahya yang tinggal bersama istri dan kelima anaknya. Selain milik pribadi rumah ini pernah tempat berkumpulnya pejuang Fisabilillah, dapur umum dan gudang logistik pada masa pra kemerdekaan Indonesia. Sedangkan masa pasca kemerdekaan rumah ini pernah ditempati oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat pemberontakan PRRI yang terjadi di Sumatera Bagian Tengah.

Dan rumah ini pernah juga ditempati oleh imam besar Masjid Raya yaitu KH. Muhammad Sech beliau juga menantu dari H.Yahya. Selanjutnya rumah ini ditempati oleh anak H.Yahya yaitu Hj. Ramnah yang tinggal ditempat itu bersama suaminya H. Ibrahim dan juga bersama keempat anaknya. Pada saat ditempati oleh Hj. Ramnah ini rumah ini digunakan sebagai aktifitas bertenun, tempat anak-anak mengaji dan juga menokat. Rumah ini sempat kosong dan baru dijadikan rumah tempat bertenun hingga kini.

Namun berbeda dengan penjelasan sejarah dari keturunan pemilik rumah yakni Beliau bernama H. Syahrul Rais, SH. Beliau menjelaskan “Sejarah dari rumah tersebut tidaklah benar. kenapa, karena itu merupakan rumah nenek saya kandung. saya besar di sana hingga SMA saya masih tinggal disana. Dan Tidak ada satupun Tentara Nasional Indonesia tinggal di rumah tersebut pada era pemberontakan PRRI tahun 1958 dan tentang dikatakan rumah tenun itu juga tidak tepat namun kalau dikatakan rumah tua bisa saja sebab sudah lama ada dan keturuan kami tidak ada yang berkepandaian bertenun tapi kami menekat dirumah itu ” ujar H. Syahrul Rais merupakan cucu dari pemilik rumah tenun.

Dan menurut beliau menekat dengan bertenun itu beda ia sekaligus menjelaskan cara cara bertekat yang memang dilakukan dari turun temurun di rumah tua tersebut. Beliau juga menjelaskan “Rumah tersebut bisa jadikan tempat betenun saat itu kawasann kampung bandar ingin dijadikan kawasan wisata maka dilihat apa yang tidak ada di kampung tersebut maka dipilihlah bertenun hingga sekarang menjadi rumah tenun dan sekaligus menjadi rumah tenun pertama di Pekanbaru”

Masyarakat bisa berkunjung ke rumah tenun ini yang terletak di pinggir sungai jantan (sungai siak sekarang) tidak jauh dari rumah singgah tuan kadi tepatnya Jl. Perdagangan, kampung bandar, Kecamatan Senapelan. Dan sekaligus bisa membeli kain tenun dan souvenir sebagai oleh-oleh.**

Penulis : Rizki Ramadhan, Mahasiswa Universitas Riau

Baca Juga

Besok, Pascasarjana Unilak Gelar Yudisium XI, Terapkan Prokes Ketat

Riaupintar.id – Akan menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) yang ketat, besok, Selasa 24 Nopember 2020, Pascasrajana …